“…Dan para malaikat masuk kepada tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan); keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d [13]:23-24)

ukhwahfillah

Sahabat yang beriman ibarat mentari yang menyinar. Sahabat yang setia bagai pewangi yang mengharumkan. Sahabat sejati menjadi pendorong impian. Sahabat berhati mulia membawa kita ke jalan Allah.

Sahabat alam maya

Bila tak ketemukan sahabat-sahabat yang takwa, lebih baik aku hidup menyendiri daripada aku harus bergaul dengan orang-orang jahat. Duduk sendirian untuk beribadah dengan tenang adalah lebih menyenangkanku daripada bersahabat dengan kawan yang mesti kuwaspada.~imam Syafie~

persahabatan dan kemesraan..

SAHABAT YANG BAIK ADALAH ORANG YANG BERCAKAP BENAR, DAN BUKANNYA HANYA MEMBENARKAN KATA-KATA.

I love my friend always n forever..

"Selemah-lemah manusia ialah orang yg tak boleh mencari sahabat dan orang yang lebih lemah dari itu ialah orang yang mensia-siakan sahabat yg telah dicari" ( Saidina Ali)

sahabat itu bukan pada pertemuan tp ingatan yang tidak pernah pudar

" Cakap sahabat yang jujur lebih besar harganya daripada harta benda yg diwarisi dari nenek moyang"(Saidina Ali)

Showing posts with label Seerah. Show all posts
Showing posts with label Seerah. Show all posts

Friday, February 18, 2011

Dia Pernah Mencintaimu



“Alangkah teringinnya di hatiku andai aku berpeluang bertemu dengan saudara-saudaraku,” ujar Rasulullah sallallaahu ‘alayhi wa sallam.

Suasana hening di pinggiran perkuburan al-Baqi’. Merenung tempat semadi para mukminin yang telah pergi, dan pasti Baginda juga akan menyertai mereka, seperti kita semua.

“Bukankah kami ini juga saudara-saudaramu wahai utusan Allah?” para sahabat melontarkan soalan.

Persoalan.

Jika Nabi sallallaahu ‘alayhi wa sallam merindukan saudara-saudaranya, apakah ada saudara yang lain selain mereka, para sahabat?

“Kalian adalah sahabatku. Ada pun saudara-saudaraku yang kumaksudkan, mereka adalah orang-orang beriman yang belum ada!” jawab Rasulullah sallallaahu ‘alayhi wa sallam.

Wednesday, February 16, 2011

Saat Saat Terakhir Rasulullah Yang Memilukan

Oleh ramziredang 

"Pada saat terakhir Nabi Muhammad s.a.w sedang sakit, seluruh Madinah berada dalam keadaan suram. Suasana yang selama ini indah dan aman bersama Rasullullah, bertukar menjadi satu tikaman duka kepada para penduduknya. Mereka semua merasa hiba kerana kekasih mereka, orang yang paling dimuliakan oleh Allah sedang berada dalam keadaan uzur dan sakit tenat. Tidak ada seorang sahabatpun yang berjalan melainkan dengan wajah yang suram dan bergenang airmata. Begitulah cinta dan sayangnya mereka kepada junjungan Rasullullah s.a.w

Pada hari Ahad, sehari sebelum hari kewafatan baginda, sakit yang baginda tanggung selama 18 hari menjadi bertambah tenat. Pada hari tersebut Bilal bin Rabah seperti biasa mengumandangkan azan. Setelah selesai azan, bilalpun menuju ke rumah Rasullullah lalu berdiri dan memberi salam di depan pintu, sambil menjemput Rasullullah berjemaah. Lalu keluarlah Fatimah dan memberitahu Bilal bahawa Rasulullah sakit. Kemudian Bilal kembali ke masjid dengan linangan airmata. Menunggu seketika.


Tuesday, December 7, 2010

[Bergambar & Video] Sejarah Pembinaan Kaabah

Kaabah yakni rumah Allah adalah kiblat di mana seluruh umat Islam menghadapnya ketika menunaikan solat.


Diriwayatkan bahawa Allah telah menjadikan tapak Kaabah itu disokong dengan empat tiang daripada air 2000 tahun sebelum Dia menciptakan dunia ini dan Dia telah membentangkan bumi dari bawah Kaabah. Tiang Kaabah itu panjangnya sehingga lapisan bumi yang ke tujuh.


Di setiap tujuh langit ada rumah Allah tempat para malaikat beribadat padaNya dan pada langit ke tujuh nama rumah Allah itu adalah Baitul Makmur. Rasulullah bersabda, “Baitul Makmur adalah masjid yang berada di langit dan ia betul-betul di atas Kaabah. Seandainya ia jatuh maka ia akan menghempap Kaabah”.


Wednesday, December 1, 2010

Meninjau keruntuhan rumah Rasulullah saw

http://muslimeen-united.blogspot.com/

Berikut adalah foto rumah Nabi Saw dan Sayyidah Khadijah, tempat mereka berdua tinggal selama 28 tahun.

Kita dapat melihat apa yang pernah di sampaikan oleh sahabat-sahabat tentang keadaan rumah ini dan bagaimana keadaannya.

Di dalam rumah yang tidak ada apa-apa, kecuali kesederhanaan dengan modal iman. Zaid bin Tsabit, “Anas bin Malik, pelayan Rasulullah pernah memperlihatkan kepadaku tempat minum Rasulullah yang terbuat dari kayu yang keras yang di patri dengan besi, lalu Anas berkata, ‘Wahai Tsabit, inilah tempat minum Rasulullah.’” (HR. Tirmidzi) “Dengan gelas kayu itulah Rasulullah minum air, perasan kurma, madu, dan susu.” (HR. Tirmidzi) dari Anas bin Malik.

Sedangkan, perabot lain yang tampak adalah baju besi yang biasa di pakai Rasulullah saat perang. Akan tetapi, tak lama sebelum beliau meninggal, baju besi itu di gadaikan kepada seorang Yahudi dengan 30 sha’ gandum seperti yang di ceritakan Aisyah. Dan ketika beliau wafat baju itu ada di tangan Yahudi dan belum di tebusnya.

Sunday, April 11, 2010

Zainab al Kubra

Oleh: Fatimah
Zainab al Kubra merupakan seorang wanita cucu Rasulullah saw, yang dalam sejarahnya dicatat begitu tabah serta tetap tegar dalam menghadapi ujian dan cubaan, demi memelihara kemuliaan dari garisan keturunan Rasulullah saw.

Menulis tentang Siti Fatimah az-Zahra dengan meninggalkan begitu saja kedua puterinya, rasanya memang kurang afdhal. Apalagi kalau yang dibicarakan itu menyangkut puterinya yang bernama Zainab al-Kubra. Ia tercatat dalam sejarah Islam sebagai wanita yang tabah dan gagah berani.

Seperti diketahui, di samping kedua puteranya yang termasyhur itu, dalam perkawinannya dengan Imam Ali Abi Thalib, Sitti Fatimah az-Zahra juga diberkahi oleh Allah s.w.t. dengan dua orang puteri. Mereka itu adalah Zainab al-Kubra dan Zainab ash-Sugra. Bersama dengan al-Hasan dan al-Husain, kedua wanita itu sudah sejak masa anak-anak ditinggalkan untuk selamalamanya oleh ibundanya.

Dalam usia yang masih muda sekali ini, sesaat sebelum wafat Siti Fatimah telah berpesan khusus kepada Zainab al-Kubra agar ia menjaga baik-baik kedua saudara lelakinya itu.

Memang, beban yang terberat bagi Siti Fatimah az-Zahra sebelum meninggal dunia rupanya adalah keempat anaknya yang masih kecil-kecil itu. Dikisahkan bahawa sesaat sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir Siti Fatimah az-Zahra tak dapat menahan kepedihan hatinya. Ia harus memenuhi panggilan Ilahi pada usia yang begitu muda, 28 tahun. Sedangkan anak-anaknya belum satu pun yang mencapai usia sepuluh tahun.

Sesudah itu pada usia masih remaja, bahkan masih anak-anak, Zainab al-Kubra sudah diserahkan tanggung jawab untuk menjaga adik-adik dan merawat kakak-kakaknya. Tidak banyak yang boleh diungkapkan mengenai peranan masa anak-anak yang dilakukan oleh kedua puteri Siti Fatimah az-Zahra itu. Riwayat-riwayat hanya mengungkapkan kehidupan dan perkembangan al Hasan dan al Husain.

Hal ini tidak perlu dihairankan, kerana dunia kehidupan Arab yang keras jarang sekali mengedepankan peranan seorang wanita. Jadi walaupun Zainab al-Kubra dan Zainab ash Sugra termasuk dalam lingkungan keluarga sangat mulia nama mereka jarang sekali ditonjolkan.

Baru beberapa tahun kemudian setelah Zainab al-Kubra meningkat remaja, maka peranannya diungkapkan oleh para periwayat. Sejarah akhirnya mencatat namanya dan mengakui peranan penting yang dijalankan oleh Zainab al-Kubra dalam melindungi kesinambungan generasi penerus keluarga Rasulullah saw.

Bagaimana pun juga, walau Zainab alKubra seorang wanita, tetapi ada darah kemuliaan dan kesucian yang mengalir dalam tubuhnya. Sejak masa anak-anak ia telah turut memikul tanggung jawab kehidupan rumah tangga Imam Ali Abi Thalib yang ditinggal wafat oleh Siti Fatimah az-Zahra.

Zainab al-Kubra dengan tekun dan tabah melaksanakan amanat yang ditinggalkan oleh bondanya sesaat sebelum wafat. Dengan penuh tanggung awab dirawatnya adik-adik dan kedua kakaknya itu. Boleh dikatakan ia tak pernah berpisah jauh dari kedua saudara lelakinya itu.

Tidak ada pengungkapan mengenai kelanjutan kehidupan Zainab ash-Sugra. Sedangkan tentang Zainab al-Kubra justru makin menonjol setelah al-Husain syahid di Karbala.

Wanita inilah pada usia sudah lebih setengah abad tanpa mengebal gentar sedikit pun sedia mati untuk menyelamatkan keturunan langsung Rasulullah saw. Ia menjadi saksi hidup tentang seksaan yang dialami oleh saudara lelakinya itu sampai al-Husain syahid dengan gagah berani.

Sunday, April 4, 2010

Bulan Pernah Terbelah

Author: Janganlah Bersedih! Allah Bersama Kita

Dan tentang terbelahnya bulan, maka itu adalah mukjizat yang terjadi pada Rasul terakhir Muhammad shallallahu 'alaihi wassalam sebagai pembenaran atas kenabian dan kerasulannya, sebagaimana nabi-nabi sebelumnya. Dan mukjizat yang kelihatan, maka itu disaksikan dan dibenarkan oleh setiap orang yang melihatnya. Andai hal itu tidak termaktub di dalam kitab Allah dan hadits-hadits Rasulullah, maka tentulah kami para muslimin di zaman ini tidak akan mengimani hal itu. Akan tetapi hal itu memang benar termaktub di dalam Al-Qur'an dan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Dan memang Allah ta'alaa benar-benar Maha berkuasa atas segala sesuatu.

Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar pun mengutip sebuah kisah Rasulullah membelah bulan. Kisah itu adalah sebelum hijrah dari Mekah Mukarramah ke Madinah. Orang-orang musyrik berkata, "Wahai Muhammad, kalau engkau benar Nabi dan Rasul, coba tunjukkan kepada kami satu kehebatan yang bisa membuktikan kenabian dan kerasulanmu (mengejek dan mengolok-olok)?" Rasulullah bertanya, "Apa yang kalian inginkan ? Mereka menjawab: Coba belah bulan, .."

Maka Rasulullah pun berdiri dan terdiam, lalu berdoa kepada Allah agar menolongnya. Maka Allah memberitahu Muhammad agar mengarahkan telunjuknya ke bulan. Maka Rasulullah pun mengarahkan telunjuknya ke bulan, dan terbelahlah bulat itu dengan sebenar-benarnya. Maka serta-merta orang-orang musyrik pun berujar, "Muhammad, engkau benar-benar telah menyihir kami!" Akan tetapi para ahli mengatakan bahwa sihir, memang benr bisa saja "menyihir" orang yang ada disampingnya akan tetapi tidak bisa menyihir orang yang tidak ada ditempat itu. Maka mereka pun pada menunggu orang-orang yang akan pulang dari perjalanan. Maka orang-orang Quraisy pun bergegas menuju keluar batas kota Mekkah menanti orang yang baru pulang dari perjalanan. Dan ketika datang rombongan yang pertama kali dari perjalanan menuju Mekkah, maka orang-orang musyrik pun bertanya, "Apakah kalian melihat sesuatu yang aneh dengan bulan?"Mereka menjawab, "Ya, benar. Pada suatu malam yang lalu kami melihat bulan terbelah menjadi dua dansaling menjauh masing-masingnya kemudian bersatu kembali...!!!"

Allah berfirman: "Sungguh telah dekat hari qiamat, dan bulan pun telah terbelah (Q.S. Al-Qamar: 1)" Apakah kalian akan membenarkan kisah yang dari ayat Al-Qur'an ini menyebabkan masuk Islamnya pimpinan Hizb Islami Inggris ??Di bawah ini adalah kisahnya:

Dalam temu wicara di televisi bersama pakar Geologi Muslim, Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar, salah seorang warga Inggris mengajukan pertanyaan kepadanya, apakah ayat dari surat Al-Qamar di atas memiliki kandungan mukjizat secara ilmiah ?

Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawabnya sebagai berikut:
Tentang ayat ini, saya akan menceritakan sebuah kisah. Sejak beberapa waktu lalu, saya mempresentasikan di Univ. Cardif, Inggris bagian barat, dan para peserta yang hadir bermacam-macam, ada yang muslim dan ada juga yang bukan muslim. Salah satu tema diskusi waktu itu adalah seputar mukjizat ilmiah dari Al-Qur'an. Salah seorang pemuda yang beragama muslim pun berdiri dan bertanya, "Wahai Tuan, apakah menurut anda ayat yang berbunyi [Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah] mengandung mukjizat secara ilmiah ? Maka saya menjawabnya: Tidak, sebab kehebatan ilmiah diterangkan oleh ilmu pengetahuan, sedangkan mukjizat tidak bisa diterangkan ilmu pengetahuan, sebab ia tidak bisa menjagkaunya.

Dan tentang terbelahnya bulan, maka itu adalah mukjizat yang terjadi pada Rasul terakhir Muhammad shallallahu 'alaihi wassalam sebagai pembenaran atas kenabian dan kerasulannya, sebagaimana nabi-nabi sebelumnya. Dan mukjizat yang kelihatan, maka itu disaksikan dan dibenarkan oleh setiap orang yang melihatnya. Andai hal itu tidak termaktub di dalam kitab Allah dan hadits-hadits Rasulullah, maka tentulah kami para muslimin di zaman ini tidak akan mengimani hal itu. Akan tetapi hal itu memang benar termaktub di dalam Al-Qur'an dan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Dan memang Allah ta'alaa benar-benar Maha berkuasa atas segala sesuatu.

Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar pun mengutip sebuah kisah Rasulullah membelah bulan. Kisah itu adalah sebelum hijrah dari Mekah Mukarramah ke Madinah. Orang-orang musyrik berkata, "Wahai Muhammad, kalau engkau benar Nabi dan Rasul, coba tunjukkan kepada kami satu kehebatan yang bisa membuktikan kenabian dan kerasulanmu (mengejek dan mengolok-olok)?" Rasulullah bertanya, "Apa yang kalian inginkan ? Mereka menjawab: Coba belah bulan, .."

Maka Rasulullah pun berdiri dan terdiam, lalu berdoa kepada Allah agar menolongnya. Maka Allah memberitahu Muhammad agar mengarahkan telunjuknya ke bulan. Maka Rasulullah pun mengarahkan telunjuknya ke bulan, dan terbelahlah bulat itu dengan sebenar-benarnya. Maka serta-merta orang-orang musyrik pun berujar, "Muhammad, engkau benar-benar telah menyihir kami!" Akan tetapi para ahli mengatakan bahwa sihir, memang benr bisa saja "menyihir" orang yang ada disampingnya akan tetapi tidak bisa menyihir orang yang tidak ada ditempat itu. Maka mereka pun pada menunggu orang-orang yang akan pulang dari perjalanan. Maka orang-orang Quraisy pun bergegas menuju keluar batas kota Mekkah menanti orang yang baru pulang dari perjalanan. Dan ketika datang rombongan yang pertama kali dari perjalanan menuju Mekkah, maka orang-orang musyrik pun bertanya, "Apakah kalian melihat sesuatu yang aneh dengan bulan?"Mereka menjawab, "Ya, benar. Pada suatu malam yang lalu kami melihat bulan terbelah menjadi dua dansaling menjauh masing-masingnya kemudian bersatu kembali...!!!"

Maka sebagian mereka pun beriman, dan sebagian lainnya lagi tetap kafir (ingkar). Oleh karena itu, Allah menurunkan ayat-Nya:

Sungguh, telah dekat hari qiamat, dan telah terbelah bulan, dan ketika melihat tanda-tanda kebesaran Kami, merekapun ingkar lagi berpaling seraya berkata, "Ini adalah sihir yang terus-menerus", dan mereka mendustakannya, bahkan mengikuti hawa nafsu mereka. Dan setiap urusan benar-benar telah tetap ....sampai akhir surat Al-Qamar.

Ini adalah kisah nyata, demikian kata Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar. Dan setelah selesainya Prof. Dr. Zaghlul menyampaikan hadits nabi tersebut, berdiri seorang muslim warga Inggris dan memperkenalkan diri seraya berkata, "Aku Daud Musa Pitkhok, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris. Wahai tuan, bolehkah aku menambahkan??"

Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawab: Dipersilahkan dengan senang hati."
Daud Musa Pitkhok berkata, "Aku pernah meneliti agama-agama (sebelum menjadi muslim), maka salah seorang mahasiswa muslim menunjukiku sebuah terjemah makna-makna Al-Qur'an yang mulia. Maka, aku pun berterima kasih kepadanya dan aku membawa terjemah itu pulang ke rumah. Dan ketika aku membuka-buka terjemahan Al-Qur'an itu di rumah, maka surat yang pertama aku buka ternyata Al-Qamar. Dan aku pun membacanya: Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah...

Maka aku pun bergumam: Apakah kalimat ini masuk akal?? Apakah mungkin bulan bisa terbelah kemudian bersatu kembali?? Andai benar, kekuatan macam apa yang bisa melakukan hal itu??? Maka, aku pun menghentikan dari membaca ayat-ayat selanjutnya dan aku menyibukkan diri dengan urusan kehidupan sehari-hari. Akan tetapi Allah Yang Maha Tahu tentang tingkat keikhlasam hamba-Nya dalam pencarian kebenaran. Maka aku pun suatu hari duduk di depan televisi Inggris. Saat itu ada sebuah diskusi diantara presenter seorang Inggris dan 3 orang pakar ruang angkasa AS.

Ketiga pakar antariksa tersebut pun menceritakan tentang dana yang begitu besardalam rangka melakukan perjalanan ke antariksa, padahal saat yang sama dunia sedang mengalami masalah kelaparan, kemiskinan, sakit dan perselisihan. Presenter pun berkata, " Andai dana itu digunakan untuk memakmurkan bumi, tentulah lebih banyak berguna". Ketiga pakar itu pun membela diri dengan proyek antariksanya dan berkata, "Proyek antariksa ini akan membawa dampak yang sangat positif pada banyak segmen kehidupan manusia, baik segi kedokteran, industri, dan pertanian. Jadi pendanaan tersebut bukanlah hal yang sia-sia, akan tetapi hal itu dalam rangka pengembangan kehidupan manusia.

Dan diantara diskusi tersebut adalah tentang turunnya astronot menjejakkan kakiknya di bulan, dimana perjalanan antariksa ke bulan tersebut telah menghabiskan dana tidak kurang dari 100 juta dollar. Mendengar hal itu, presenter terperangah kaget danberkata, "Kebodohan macam apalagi ini, dana begitu besar dibuang oleh AS hanya untuk bisa mendarat di bulan?" Mereka pun menjawab, "Tidak, ..!!! Tujuannya tidak semata menancapkan ilmu pengetahuan AS di bulan, akan tetapi kami mempelajari kandungan yang ada di dalam bulan itu sendiri, maka kami pun telah mendapat hakikat tentang bulan itu, yang jika kita berikan dana lebih dari 100 juta dollar untuk kesenangan manusia, maka kami tidak akan memberikan dana itu kepada siapapun. Maka presenter itu pun bertanya, "Hakikat apa yang kalian telah capai sehingga demikian mahal taruhannya. Mereka menjawab,

"Ternyata bulan pernah mengalami pembelahan di suatu hari dahulu kala, kemudian menyatu kembali.!!! Presenter pun bertanya, "Bagaimana kalian bisa yakin akanhal itu?" Mereka menjawab, "Kami mendapati secara pasti dari batuan-batuan yang terpisah terpotong di permukaan bulan sampai di dalam (perut) bulan. Maka kami pun meminta para pakar geologi untuk menelitinya, dan mereka mengatakan, "Hal ini tidak mungkin telah terjadi kecuali jika memang bulan pernah terbelah lalu bersatu kembali".

Mendengar paparan itu, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris mengatakan, "Maka aku pun turun dari kursi dan berkata, "Mukjizat (kehebatan) benar-benar telah terjadi pada diri Muhammad sallallahu alaihi wassallam 1400-an tahun yang lalu. Allah benar-benar telah mengolok-olok AS untuk mengeluarkan dana yang begitu besar, 100 juta dollar lebih, hanya untuk menetapkan akan kebenaran muslimin !!!! Maka, agama Islam ini tidak mungkin salah ... Maka aku pun berguman, "Maka, aku pun membuka kembali Mushhaf Al-Qur'an dan aku baca surat Al-Qamar, dan ... saat itu adalah awal aku menerima dan masuk Islam.

Wednesday, February 24, 2010

INDAHNYA PERIBADI RASULULLAH S.A.W.

BAGINDA Rasulullah s.a.w akan menampal sendiri pakaiannya yang koyak tanpa perlu menyuruh isterinya, malah Baginda juga memerah sendiri susu kambing untuk keperluan keluarga mahupun untuk di jual.
Setiap kali Baginda balik ke rumah dan dilihatnya tiada makanan yang siap untuk dimakan, Baginda tersenyum sambil menyinsing lengan baju bagi membantu isterinya di dapur. Sayidatina Aisyah pernah menceritakan bahawa baginda selalu membantu urusan rumahtangga.
Jika mendengar azan, Baginda akan cepat-cepat berangkat ke masjid dan segera pulang selepas bersembahyang.
Pernah pada suatu pagi Baginda pulang ke rumah dengar lapar sekali. Tetapi dilihatnya tiada makanan untuk dibuat sarapan. Makanan yang mentah pun belum ada kerana Sayidatina Aisyah belum lagi ke pasar.

Lalu Baginda bertanya “belum ada sarapan Ya Khumaira?”. Khumaira adalah panggilan manja untuk Sayidatina Aisyah yang bermaksud wahai yang kemerah-merahan. Sayidatina Aisyah menjawab dengan serba salah “belum ada apa-apa Ya Rasulullah”.
Mendengar jawapan Sayidatina Aisyah, Baginda pun berkata “jika begitu aku berpuasa hari ini” tanpa sedikitpun tergambar perasaan kesal di wajah Baginda.

Sebaliknya Baginda sangat marah sekiranya melihat seorang suami mengkasari isterinya. Pernah diceritakan pada suatu hari Baginda melihat seorang suami memukul isterinya. Baginda lalu bertanya “mengapa engkau memukul isterimu?”. 

Soalan itu di jawab oleh si suami dengan gementar “isteriku seorang yang keras kepala, walaupun telah di berikan nasihat tetapi dia masih berdegil, jadi aku pukul dia”. Sahut Baginda “Aku tidak bertanya alasanmu tetapi menanyakan kenapa engkau sanggup memukul teman tidurmu dan ibu kepada anak-anakmu”.

Pernah Baginda bersabda “sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik dan lemah lembut terhadap isterinya”.
Sebenarnya sikap Baginda yang prihatin, sabar dan tawadhuk di dalam menjadi ketua keluarga langsung tidak menjejaskan kedudukannya sebagai pemimpin umat.

Pernah pada suatu ketika, Baginda mengimamkan solat, dilihat oleh para sahabat pergerakan Baginda dari satu rukun ke satu rukun yang lain amat sukar sekali. Malah mereka mendengar bunyi menggerutup seolah-seolah bunyi sendi Baginda Rasulullah sedang bergesel diantara satu sama lain.

Setelah selesai sembahyang, Sayidina Umar yang tidak tahan melihat Baginda lalu bertanya “Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah tuan hamba sedang menanggung penderitaan yang amat berat, adakah tuan hamba sedang sakit?”.

Lalu baginda menjawab “tidak Umar, Alhamdulillah aku sihat dan segar”. Umar yang tidak berpuas hati dengan jawapan tersebut terus bertanya “kalau tuan hamba sihat, kenapa setiap kali menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi tuan hamba sedang bergeselan”.

Akhirnya Rasulullah mengangkat jubahnya. Para sahabat amat terperanjat. Perut Baginda yang kempis, kelihatan dililiti sehelai kain yang mengandungi batu-batu kerikil bagi menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menerbitkan bunyi setiap kali Baginda menggerakkan tubuhnya.

Para sahabat yang tadinya terperanjat terus bertanya “Ya Rasulullah, adakah tuan hamba fikir bila menyatakan lapar dan tiada makanan, maka kami tidak akan membawanya”.

Lalu baginda menjawab dengan lembut “tidak para sahabatku, aku tahu apapun akan kamu korbankan dengan seorang Rasulmu, tetapi apakah yang akan aku jawab di hadapan Allah nanti kerana aku sebagai seorang pemimpin menjadi beban kepada umatnya”.

Baginda menambah “biarlah kelaparan ini menjadi hadiah Allah buatku agar umatku kelak tiada yang kelaparan di dunia ini, lebih-lebih lagi di akhirat kelak”.

Sebab itulah Baginda tidak pernah merasa malu walaupun makan di sebelah seorang tua yang miskin, kotor dan dipenuhi dengan kudis.

Kecintaannya yang tinggi terhadap Allah dan rasa kehambaan yang sudah sebati dalam diri baginda menolak sama sekali rasa ketuanan. Seolah-olah anugerah kemuliaan dari Allah langsung tidak dijadikan alasan untuk merasa lebih daripada orang lain di depan orang ramai mahupun ketika bersendirian.

Walaupun pintu syurga telah terbuka seluas-luasnya untuk Baginda tetapi Baginda masih lagi berdiri di malam-malam sepi untuk terus beribadah kepada Allah. Pernah Baginda terjatuh kerana kaki-kakinya bengkak oleh sebab terlalu lama berdiri. Fizikalnya sudah tidak mampu lagi menanggung kemahuan jiwanya yang tinggi. 

Apabila ditanya oleh Sayidatina Aisyah “Ya Rasulullah, bukankah tuan hamba telah di jamin syurga. Mengapa tuan hamba masih bersusah payah sebegini?”.

Baginda menjawab dengan tenang “Ya Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba. Sesungguhnya aku ingin menjadi seorang hambaNya yang bersyukur”.

Sunday, February 21, 2010

CARA MENDAPAT KASIH RASULULLAH S.A.W.

Setiap muslim wajib beradab dengan Rasulullah SAW kerana itu adalah perintah Allah SWT kepada orang-orang yang beriman. Hal itu disebutkan oleh Allah di dalam Surat al-Hujurat ayat 1 yang bermaksud:

“Wahai orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya.”
 
 Ini bermakna sebelum melakukan sesuatu, kita perlu merujuk kepada Allah dan Rasulullah (yakni al-Quran dan al-Sunnah) terlebih dahulu. Sifat seperti ini sentiasa menjadi tabiat sahabat-sahabat Rasulullah SAW.

Pada suatu ketika seorang sahabat lalu di antara dua lembah yang terletak di antara dua bukit. Di situ terdapat kawasan berair yang jernih lagi tawar airnya. Lalu sahabat itu berkata kepada dirinya, “Alangkah baiknya kalau aku dapat tinggal di sini. Tetapi aku tidak boleh berbuat demikian kecuali mendapat keizinan daripada Rasulullah terlebih dahulu.”

Setelah mengetahui perkara itu, Rasulullah bersabda yang bermaksud, “Jangan sekali-kali kamu berbuat demikian. Sekiranya kamu beribadah selama 60 tahun masih belum sama dengan seorang yang keluar berjihad di jalan Allah SWT.”

Kita perlu beradab dengan Rasulullah SAW dalam semua hal. Hal ini lebih penting lagi terutama kepada seorang pendakwah kerana ia bukan sahaja perlu menjadi seorang yang saleh, bahkan berbuat baik dan mengajak orang lain menjadi baik.

Dalam Surah al-Hujurat ayat 2, Allah SWT berfirman yang bermaksud:
“Janganlah kamu mengangkat suara kamu melebihi suara Rasulullah.”
 
Ayat itu diturunkan selepas peristiwa Thabit bin Qais bercakap dengan suara yang tinggi di hadapan Rasulullah. Sebaik sahaja turun ayat itu, Thabit berasa bersalah yang amat sangat. Dia tidak keluar daripada rumahnya kerana berasa Allah murka dengannya. Kehilangan Thabit menyebabkan Rasulullah tertanya-tanya mengenainya. Ketika seorang sahabat datang ke rumahnya, Thabit berkata, “Sayalah yang mengangkat suara melebihi suara Nabi. Habis musnah segala amalan saya dan saya termasuk dalam golongan ahli neraka.”

Apabila khabar itu sampai kepadanya, Rasulullah bersabda, “Tidak, dia adalah ahli syurga.”

Adab yang diajarkan oleh Allah SWT itu perlu dipatuhi oleh setiap muslim sekalipun Rasulullah sudah wafat. Dr Abdul Karim Zaidan di dalam bukunya menerangkan bahawa ‘tidak mengangkat suara’ itu mestilah dipatuhi hatta sewaktu menziarahi masjid Nabi SAW.

Saidina Umar al-Khattab pernah menegur seorang lelaki dari Thaif sewaktu lelaki itu masuk ke dalam masjid Nabi dan mengangkat suaranya. Saidina Umar bertanya, “Engkau dari mana?” Lelaki itu menjawab, “Dari Thaif.” Kata Saidina Umar, “Kalau kamu dari Madinah sudah tentu aku tangan (tampar) kamu tetapi kerana kamu dari Thaif maka aku maafkan.”

 Daripada sirah zaman dahulu juga kita dapati Allah SWT menegur orang-orang dahulu (Arab dusun) kerana tidak tahu beradab dengan Rasulullah SAW. Dalam Surah al-Hujurat, ayat 4, Allah SWT berfirman yang bermaksud:

“Sesungguhnya orang-orang yang memanggil engkau di belakang bilik Nabi sedang Nabi masih tidur, kebanyakan mereka  tidak menggunakan akal sebaik-baiknya. Kalaulah mereka sabar sehingga engkau keluar itu adalah lebih baik bagi mereka.”
 
Bagaimanapun sikap sahabat-sahabat yang pernah mengikuti tarbiyah di madrasah Rasulullah SAW sangat berbeza. Jika Rasulullah SAW sedang tidur, mereka tidak akan memanggil baginda kerana mereka tahu Rasulullah tidur lantaran terlalu letih.

Contoh itu dapat kita lihat sewaktu berlaku kematian seorang wanita kulit hitam yang bertugas mengutip sampah di Masjid Nabi. Oleh kerana sudah lama tidak nampak wanita tersebut, Rasulullah SAW pun bertanya mengenainya. Sahabat-sahabat memberitahu bahawa wanita itu sudah meninggal dunia. Rasulullah SAW bertanya, “Kenapa tidak diberitahu kepada aku tentang kematiannya?” Jawab sahabat, “Ya Rasulullah, sebenarnya kami datang untuk memberitahu kepada Rasulullah tetapi kami dapati Rasulullah sedang tidur.

Kami tahu Rasulullah tidur kerana terlalu letih. Sebab itu kami tidak mahu mengganggu.” Rasulullah SAW bersabda, “Tunjukkan aku di manakah kuburnya?” Kemudian Rasulullah SAW bersembahyang dan berdoa untuk wanita itu.

Allah SWT mewajibkan (memfardukan) setiap muslim beradab dan taat kepada Rasulullah SAW dalam semua suasana. Firman Allah SWT yang bermaksud:

“Jika kamu mengasihi Allah, maka ikutilah aku, nescaya Allah kasih kepadamu dan mengampunkan dosa kamu....”  (Ali Imran: 31)
 
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya.” (An-Nisa’: 59)
Allah SWT juga mewajibkan kita mengasihi Nabi-Nya. Hal ini diterangkan oleh Rasulullah SAW dalam hadisnya yang bermaksud:

“Demi nyawa yang diriku berada dalam genggaman-Nya, tidak beriman seseorang kamu sehinggalah aku lebih dikasihi daripada anaknya, ayahnya dan manusia seluruhnya.”

SIRAH KASIH KEPADA RASULULLAH SAW MELEBIHI YANG LAIN
 
  • Sewaktu Perang Badar, seorang sahabat bernama Sawad datang memeluk Nabi dan menangis bersungguh-sungguh. Melihat keadaan itu Nabi bertanya kenapa dia berbuat demikian. Jawabnya, “Engkau lihat ya Rasulullah apa yang engkau nampak. Aku ingin sekali sebelum mengakhiri hayatku supaya kulitku bersentuh dengan kulitmu sebelum aku balik menemui Allah SWT.”
  •  
  • Dalam Perang Uhud pula, menjelang akhir hayatnya, Saad ibnu Rabi’ berkata kepada Zaid bin Thabit, “Sampaikan salam aku kepada Rasulullah SAW. Katakanlah kepadanya sesungguhnya aku dapat menghidu bau syurga yang dijanjikan oleh Rasulullah SAW.”
  •  
  • Seorang wanita Ansar diberitahu mengenai kematian bapa, saudara lelaki serta suaminya dalam Perang Uhud. Apabila berita itu disampaikan kepadanya dia terus bertanya mengenai keadaan Rasulullah SAW. Sahabat memberitahu bahawa Rasulullah SAW dalam keadaan baik dengan katanya,  
  •  
  • “Alhamdulillah, sihat seperti yang kamu kehendaki.” Kemudian wanita itu meminta untuk melihat Rasulullah SAW. Apabila melihat Rasulullah SAW, wanita itu berkata, “Segala musibah yang menimpa aku adalah kecil sedangkan yang besar adalah engkau, ya Rasulullah.”
  •  
  • Bagaimanakah sifat itu lahir di dalam diri sahabat Rasulullah SAW? Sebenarnya mereka telah mengenal Rasulullah SAW dan mengetahui riwayat hidupnya sejak kecil hingga dewasa. Kemudian mereka mengikuti proses pendidikan di madrasah Rasulullah SAW. Dengan itu Allah mencampakkan rasa kasih sedemikian rupa hingga memenuhi setiap sudut dan ruang di dalam hati mereka.

Detik Kewafatan Rasullullah SAW

Dari Ibnu Mas'ud ra bahwa ia berkata: Ketika ajal Rasulullah SAW sudah dekat, baginda mengumpul kami di rumah Siti Aisyah ra. Kemudian baginda memandang kami sambil berlinangan air matanya, lalu bersabda:

"Marhaban bikum, semoga Allah memanjangkan umur kamu semua, semoga Allah menyayangi, menolong dan memberikan petunjuk kepada kamu. Aku berwasiat kepada kamu, agar bertakwa kepada Allah. Sesungguhnya aku adalah sebagai pemberi peringatan untuk kamu. Janganlah kamu berlaku sombong terhadap Allah." Allah berfirman: "Kebahagiaan dan kenikmatan di akhirat. Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan dirinya dan membuat kerosakan di muka bumi. Dan kesudahan syurga itu bagi orang-orang yang bertakwa."

Kemudian kami bertanya: "Bilakah ajal baginda ya Rasulullah? Baginda menjawab: Ajalku telah hampir, dan akan pindah ke hadhrat Allah, ke Sidratulmuntaha dan ke Jannatul Makwa serta ke Arsyi la' la." Kami bertanya lagi: "Siapakah yang akan memandikan baginda ya Rasulullah? Rasulullah menjawab: Salah seorang ahli bait. Kami bertanya: "Bagaimana nanti kami mengafani baginda ya Rasulullah?" Baginda menjawab: "Dengan bajuku ini atau pakaian Yamaniyah." Kami bertanya: "Siapakah yang mensolatkan baginda di antara kami?" Kami menangis dan Rasulullah SAW pun turut menangis.

Kemudian baginda bersabda: "Tenanglah, semoga Allah mengampuni kamu semua. Apabila kamu semua telah memandikan dan mengafaniku, maka letaklah aku di atas tempat tidurku, di dalam rumahku ini, di tepi liang kuburku, kemudian keluarlah kamu semua dari sisiku. Maka yang pertama-tama mensolatkan aku adalah sahabatku Jibril as. Kemudian Mikail, kemudian Israfil kemudian Malaikat Izrail (Malaikat Maut) beserta bala tenteranya. Kemudian masuklah anda dengan sebaik-baiknya. Dan hendaklah yang mula solat adalah kaum lelaki dari pihak keluargaku, kemudian yang wanita-wanitanya, dan kemudian kamu semua."

Semenjak hari itulah Rasulullah SAW bertambah sakitnya, yang ditanggungnya selama 18 hari, setiap hari ramai yang mengunjungi baginda, sampailah datangnya hari Senin, di saat baginda menghembus nafas yang terakhir. Sehari menjelang baginda wafat yaitu pada hari Ahad, penyakit baginda semakin bertambah serius. Pada hari itu, setelah Bilal bin Rabah ra. selesai mengumandangkan azannya, ia berdiri di depan pintu rumah Rasulullah SAW, kemudian memberi salam: "Assalamualaikum ya Rasulullah?" Kemudian ia berkata lagi "Assolah yarhamukallah." Fatimah menjawab: "Rasulullah dalam keadaan sakit?" Maka kembalilah Bilal ke dalam masjid, ketika bumi terang disinari matahari siang, Bilal datang lagi ke tempat Rasulullah, lalu ia berkata seperti perkataan yang tadi. Kemudian Rasulullah memanggilnya dan menyuruh ia masuk. Setelah Bilal bin Rabah masuk, Rasulullah SAW bersabda: "Saya sekarang dalam keadaan sakit, Wahai Bilal, kamu perintahkan saja agar Abu Bakar menjadi imam dalam solat." Maka keluarlah Bilal sambil meletakkan tangan di atas kepalanya sambil berkata: "Aduhai, alangkah baiknya bila aku tidak dilahirkan ibuku?" Kemudian ia memasuki masjid dan berkata kepada Abu Bakar ra. agar beliau menjadi imam dalam solat tersebut. Ketika Abu Bakar ra. melihat ke tempat Rasulullah SAW yang kosong, sebagai seorang lelaki yang lemah lembut, ia tidak dapat menahan perasaannya lagi, lalu ia menjerit dan akhirnya ia pingsan.

Orang-orang yang berada di dalam masjid menjadi ribut sehingga terdengar oleh Rasulullah SAW. Baginda bertanya: "Wahai Fatimah, suara apakah yang ribut itu? Fatimah rha. menjawab: "Orang-orang menjadi ribut dan bingung kerana Rasulullah SAW tidak ada bersama mereka." Kemudian Rasulullah SAW memanggil Ali bin Abi Thalib dan ibnu Abbas ra, sambil dibimbing oleh mereka berdua, maka baginda berjalan menuju ke masjid. Baginda solat dua rakaat, setelah itu baginda melihat kepada orang ramai dan bersabda:

"Ya ma'aasyiral Muslimin, kamu semua berada dalam pemeliharaan dan perlindungan Allah, sesungguhnya Dia adalah penggantiku atas kamu semua setelah aku tiada. Aku berwasiat kepada kamu semua agar bertakwa kepada Allah SWT, kerana aku akan meninggalkan dunia yang fana ini. Hari ini adalah hari pertamaku memasuki alam akhirat, dan sebagai hari terakhirku berada di alam dunia ini."

Malaikat Maut Datang Bertamu Pada hari esoknya, yaitu pada hari Senin, Allah mewahyukan kepada Malaikat Maut supaya ia turun menemui Rasulullah SAW dengan berpakaian sebaik-baiknya. Dan Allah menyuruh kepada Malaikat Maut mencabut nyawa Rasulullah SAW dengan lemah lembut. Seandainya Rasulullah menyuruhnya masuk, maka ia dibolehkan masuk, namun jika Rasulullah SAW tidak mengizinkannya, ia tidak boleh masuk, dan hendaklah ia kembali saja. Maka turunlah Malaikat Maut untuk menunaikan perintah Allah SWT. Ia menyamar sebagai seorang biasa.

Setelah sampai di depan pintu tempat kediaman Rasulullah SAW, Malaikat Maut itupun berkata: "Assalamualaikum Wahai ahli rumah kenabian, sumber wahyu dan risalah!"

Fatimah rha berkata kepada tamunya itu: "Wahai Abdullah (Hamba Allah), Rasulullah sekarang dalam keadaan sakit." Kemudian Malaikat Maut itu memberi salam lagi: "Assalamualaikum. Bolehkah saya masuk?" Akhirnya Rasulullah SAW mendengar suara Malaikat Maut itu, lalu baginda bertanya kepada puterinya Fatimah: "Siapakah yang ada di muka pintu itu? Fatimah menjawab: "Seorang lelaki memanggil ayah, saya katakan kepadanya bahwa ayahanda dalam keadaan sakit. Kemudian ia memanggil sekali lagi dengan suara yang menggetarkan sukma." Rasulullah SAW bersabda: "Tahukah kamu siapakah dia?"Fatimah menjawab: "Tidak wahai baginda." Lalu Rasulullah SAW menjelaskan: "Wahai Fatimah, ia adalah pengusir kelazatan, pemutus keinginan, pemisah jemaah dan yang meramaikan kubur."

Kemudian Rasulullah SAW bersabda: "Masuklah, Wahai Malaikat Maut. Maka masuklah Malaikat Maut itu sambil mengucapkan `Assalamualaika ya Rasulullah." Rasulullah SAW pun menjawab: Waalaikassalam Ya Malaikat Maut. Engkau datang untuk berziarah atau untuk mencabut nyawaku?" Malaikat Maut menjawab: "Saya datang untuk ziarah sekaligus mencabut nyawa. Jika tuan izinkan akan saya lakukan, kalau tidak, saya akan pulang. Rasulullah SAW bertanya: "Wahai Malaikat Maut, di mana engkau tinggalkan kecintaanku Jibril? "Saya tinggal ia di langit dunia?" Jawab Malaikat Maut.

Baru saja Malaikat Maut selesai bicara, tiba-tiba Jibril as datang kemudian duduk di samping Rasulullah SAW.Maka bersabdalah Rasulullah SAW: "Wahai Jibril, tidakkah engkau mengetahui bahwa ajalku telah dekat? Jibril menjawab: Ya, Wahai kekasih Allah." Seterusnya Rasulullah SAW bersabda: "Beritahu kepadaku Wahai Jibril, apakah yang telah disediakan Allah untukku di sisinya? Jibril pun menjawab: "bahwa pintu-pintu langit telah dibuka, sedangkan malaikat-malaikat telah berbaris untuk menyambut rohmu." 
Baginda SAW bersabda: "Segala puji dan syukur bagi Tuhanku. Wahai Jibril, apa lagi yang telah disediakan Allah untukku? Jibril menjawab lagi: bahwa pintu-pintu Syurga telah dibuka, dan bidadari-bidadari telah berhias, sungai-sungai telah mengalir, dan buah-buahnya telah ranum, semuanya menanti kedatangan rohmu." Baginda SAW bersabda lagi: "Segala puji dan syukur untuk Tuhanku. Beritahu lagi wahai Jibril, apa lagi yang di sediakan Allah untukku? Jibril menjawab: Aku memberikan berita gembira untuk tuan. Tuanlah yang pertama-tama diizinkan sebagai pemberi syafaat pada hari kiamat nanti." Kemudian Rasulullah SAW bersabda: "Segala puji dan syukur, aku panjatkan untuk Tuhanku.

Wahai Jibril beritahu kepadaku lagi tentang khabar yang menggembirakan aku?" Jibril as bertanya: "Wahai kekasih Allah, apa sebenarnya yang ingin tuan tanyakan? Rasulullah SAW menjawab: "Tentang kegelisahanku, apakah yang akan diperolehi oleh orang-orang yang membaca Al-Quran sesudahku? Apakah yang akan diperolehi orang-orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan sesudahku? Apakah yang akan diperolehi orang-orang yang berziarah ke Baitul Haram sesudahku?" Jibril menjawab: "Saya membawa khabar gembira untuk baginda. Sesungguhnya Allah telah berfirman: Aku telah mengharamkan Syurga bagi semua Nabi dan umat, sampai engkau dan umatmu memasukinya terlebih dahulu." Maka berkatalah Rasulullah SAW: "Sekarang, tenanglah hati dan perasaanku.

Wahai Malaikat Maut dekatlah kepadaku?" Lalu Malaikat Maut pun berada dekat Rasulullah SAW. Ali ra bertanya: "Wahai Rasulullah SAW, siapakah yang akan memandikan baginda dan siapakah yang akan mengafaninya? Rasulullah menjawab: Adapun yang memandikan aku adalah engkau wahai Ali, sedangkan Ibnu Abbas menyiramkan airnya dan Jibril akan membawa hanuth (minyak wangi) dari dalam Syurga. 
 
Kemudian Malaikat Maut pun mulai mencabut nyawa Rasulullah. Ketika roh baginda sampai di pusat perut, baginda berkata: "Wahai Jibril, alangkah pedihnya maut." Mendengar ucapan Rasulullah itu, Jibril as memalingkan mukanya. Lalu Rasulullah SAW bertanya: "Wahai Jibril, apakah engkau tidak suka memandang mukaku? Jibril menjawab: Wahai kekasih Allah, siapakah yang sanggup melihat muka baginda, sedangkan baginda sedang merasakan sakitnya maut?" 
 
Akhirnya roh yang mulia itupun meninggalkan jasad Rasulullah SAW. Kesedihan Sahabat Berkata Anas ra: "Ketika aku melalui depan pintu rumah Aisyah ra aku dengar ia sedang menangis, sambil mengatakan: Wahai orang-orang yang tidak pernah memakai sutera. Wahai orang-orang yang keluar dari dunia dengan perut yang tidak pernah kenyang dari gandum. Wahai orang yang telah memilih tikar dari singgahsana. Wahai orang yang jarang tidur di waktu malam kerana takut Neraka Sa'ir."

Keadaan Lapar Rasulullah SAW


Muslim dan Tarmidzi telah meriwayatkan dari An-Nu'man bin Basyir ra. dia berkata: Bukankah kamu sekarang mewah dari makan dan minum, apa saja yang kamu mau kamu mendapatkannya? Aku pernah melihat Nabi kamu Muhammad SAW hanya mendapat korma yang buruk saja untuk mengisi perutnya!

Dalam riwayat Muslim pula dari An-Nu'man bin Basyir ra. katanya, bahwa pada suatu ketika Umar ra. menyebut apa yang dinikmati manusia sekarang dari dunia! Maka dia berkata, aku pernah melihat Rasulullah SAW seharian menanggung lapar, karena tidak ada makanan, kemudian tidak ada yang didapatinya pula selain dari korma yang buruk saja untuk mengisi perutnya.

Suatu riwayat yang diberitakan oleh Abu Nu'aim, Khatib, Ibnu Asakir dan Ibnun-Najjar dari Abu Hurairah ra. dia berkata: Aku pernah datang kepada Rasulullah SAW ketika dia sedang bersembahyang duduk, maka aku pun bertanya kepadanya: Ya Rasulullah! Mengapa aku melihatmu bersembahyang duduk, apakah engkau sakit? jawab beliau: Aku lapar, wahai Abu Hurairah! Mendengar jawaban beliau itu, aku terus menangis sedih melihatkan keadaan beliau itu. Beliau merasa kasihan melihat aku menangis, lalu berkata: Wahai Abu Hurairah! jangan menangis, karena beratnya penghisaban nanti di hari kiamat tidak akan menimpa orang yang hidupnya lapar di dunia jika dia menjaga dirinya di kehidupan dunia. (Kanzul Ummal 4:41)

Ahmad meriwayatkan dari Aisyah ra. dia berkata: Sekali peristiwa keluarga Abu Bakar ra. (yakni ayahnya) mengirim (sop) kaki kambing kepada kami malam hari, lalu aku tidak makan, tetapi Nabi SAW memakannya - ataupun katanya, beliau yang tidak makan, tetapi Aisyah makan, lalu Aisyah ra. berkata kepada orang yang berbicara dengannya: Ini karena tidak punya lampu. Dalam riwayat Thabarani dengan tambahan ini: Lalu orang bertanya: Hai Ummul Mukminin! Apakah ketika itu ada lampu? Jawab Aisyah: Jika kami ada minyak ketika itu, tentu kami utamakan untuk dimakan.
(At-Targhib Wat-Tarhib 5:155; Kanzul Ummal 5:155)

Abu Ya'la memberitakan pula dari Abu Hurairah ra. katanya: Ada kalanya sampai berbulan-bulan berlalu, namun di rumah-rumah Rasulullah SAW tidak ada satu hari pun yang berlampu, dan dapurnya pun tidak berasap. Jika ada minyak dipakainya untuk dijadikan makanan. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:154; Majma'uz Zawatid 10:325)

Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula dari Urwah dari Aisyah ra. dia berkata: Demi Allah, hai anak saudaraku (Urwah anak Asma, saudara perempuan Aisyah), kami senantiasa memandang kepada anak bulan, bulan demi bulan, padahal di rumah-rumah Rasulullah SAW tidak pernah berasap. Berkata Urwah: Wahai bibiku, jadi apalah makanan kamu? Jawab Aisyah: Korma dan air sajalah, melainkan jika ada tetangga-tetangga Rasulullah SAW dari kaum Anshar yang membawakan buat kami makanan. Dan memanglah kadang-kadang mereka membawakan kami susu, maka kami minum susu itu sebagai makanan. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:155)

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Aisyah ra. katanya: sering kali kita duduk sampai empat puluh hari, sedang di rumah kami tidak pernah punya lampu atau dapur kami berasap. Maka orang yang mendengar bertanya: Jadi apa makanan kamu untuk hidup? Jawab Aisyah: Korma dan air saja, itu pun jika dapat. (Kanzul Ummal 4:38)

Tarmidzi memberitakan dari Masruq, katanya: Aku pernah datang menziarahi Aisyah ra. lalu dia minta dibawakan untukku makanan, kemudian dia mengeluh: Aku mengenangkan masa lamaku dahulu. Aku tidak pernah kenyang dan bila aku ingin menangis, aku menangis sepuas-puasnya! Tanya Masruq: Mengapa begitu, wahai Ummul Mukminin?! Aisyah menjawab: Aku teringat keadaan di mana Rasulullah SAW telah meninggalkan dunia ini! Demi Allah, tidak pernah beliau kenyang dari roti, atau daging dua kali sehari. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:148)

Dalam riwayat Ibnu Jarir lagi tersebut: Tidak pernah Rasulullah SAW kenyang dari roti gandum tiga hari berturut-turut sejak beliau datang di Madinah sehingga beliau meninggal dunia. Di lain lain versi: Tidak pernah kenyang keluarga Rasulullah SAW dari roti syair dua hari berturut-turut sehingga beliau wafat. Dalam versi lain lagi: Rasulullah SAW telah meninggal dunia, dan beliau tidak pernah kenyang dari korma dan air.
(Kanzul Ummal 4:38)

Dalam riwayat lain yang dikeluarkan oleh Baihaqi telah berkata Aisyah ra.: Rasulullah SAW tidak pernah kenyang tiga hari berturut-turut, dan sebenarnya jika kita mau kita bisa kenyang, akan tetapi beliau selalu mengutamakan orang lain yang lapar dari dirinya sendiri. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:149)

Ibnu Abid-Dunia memberitakan dari Al-Hasan ra. secara mursal, katanya: Rasulullah SAW selalu membantu orang dengan tangannya sendiri, beliau menampal bajunya pun dengan tangannya sendiri, dan tidak pernah makan siang dan malam secara teratur selama tiga hari berturut-turut, sehingga beliau kembali ke rahmatullah. Bukhari meriwayatkan dari Anas ra. katanya: Tidak pernah Rasulullah SAW makan di atas piring, tidak pernah memakan roti yang halus hingga beliau meninggal dunia. Dalam riwayat lain: Tidak pernah melihat daging yang sedang dipanggang (maksudnya tidak pernah puas makan daging panggang). (At-Targhib Wat-Tarhib 5:153)

Tarmidzi memberitakan dari Ibnu Abbas ra. katanya: Rasulullah SAW sering tidur malam demi malam sedang keluarganya berbalik-balik di atas tempat tidur karena kelaparan, karena tidak makan malam. Dan makanan mereka biasanya dari roti syair yang kasar. Bukhari pula meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. katanya: Pernah Rasulullah SAW mendatangi suatu kaum yang sedang makan daging bakar, mereka mengajak beliau makan sama, tetapi beliau menolak dan tidak makan. Dan Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah SAW meninggal dunia, dan beliau belum pernah kenyang dari roti syair yang kasar keras itu. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:148 dan 151)

Pernah Fathimah binti Rasulullah SAW datang kepada Nabi SAW membawa sepotong roti syair yang kasar untuk dimakannya. Maka ujar beliau kepada Fathimah ra: Inilah makanan pertama yang dimakan ayahmu sejak tiga hari yang lalu! Dalam periwayatan Thabarani ada tambahan ini, yaitu: Maka Rasulullah SAW pun bertanya kepada Fathimah: Apa itu yang engkau bawa, wahai Fathimah?! Fathimah menjawab: Aku membakar roti tadi, dan rasanya tidak termakan roti itu, sehingga aku bawakan untukmu satu potong darinya agar engkau memakannya dulu! (Majma'uz Zawa'id 10:312)

Ibnu Majah dan Baihaqi meriwayatkan pula dari Abu Hurairah ra. katanya: Sekali peristiwa ada orang yang membawa makanan panas kepada Rasulullah SAW maka beliau pun memakannya. Selesai makan, beliau mengucapkan: Alhamdulillah! Inilah makanan panas yang pertama memasuki perutku sejak beberapa hari yang lalu. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:149)

Bukhari meriwayatkan dari Sahel bin Sa'ad ra. dia berkata: Tidak pernah Rasulullah SAW melihat roti yang halus dari sejak beliau dibangkitkan menjadi Utusan Allah hingga beliau meninggal dunia. Ada orang bertanya: Apakah tidak ada pada zaman Nabi SAW ayak yang dapat mengayak tepung? Jawabnya: Rasulullah SAW tidak pernah melihat ayak tepung dari sejak beliau diutus menjadi Rasul sehingga beliau wafat. Tanya orang itu lagi: Jadi, bagaimana kamu memakan roti syair yang tidak diayak terlebih dahulu? Jawabnya: Mula-mula kami menumbuk gandum itu, kemudian kami meniupnya sehingga keluar kulit-kulitnya, dan yang mana tinggal itulah yang kami campurkan dengan air, lalu kami mengulinya. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:153)

Tarmidzi memberitakan daiipada Abu Talhah ra. katanya: Sekali peristiwa kami datang mengadukan kelaparan kepada Rasulullah SAW lalu kami mengangkat kain kami, di mana padanya terikat batu demi batu pada perut kami. Maka Rasulullah SAW pun mengangkat kainnya, lalu kami lihat pada perutnya terikat dua batu demi dua batu. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:156)

Ibnu Abid Dunia memberitakan dari Ibnu Bujair ra. dan dia ini dari para sahabat Nabi SAW Ibnu Bujair berkata: Pernah Nabi SAW merasa terlalu lapar pada suatu hari, lalu beliau mengambil batu dan diikatkannya pada perutnya. Kemudian beliau bersabda: Betapa banyak orang yang memilih makanan yang halus-halus di dunia ini kelak dia akan menjadi lapar dan telanjang di hari kiamat! Dan betapa banyak lagi orang yang memuliakan dirinya di sini, kelak dia akan dihinakan di akhirat. Dan betapa banyak orang yang menghinakan dirinya di sini, kelak dia akan dimuliakan di akhirat.'

Bukhari dan Ibnu Abid Dunia meriwayatkan dari Aisyah ra. dia berkata: Bala yang pertama-tama sekali berlaku kepada ummat ini sesudah kepergian Nabi SAW ialah kekenyangan perut! Sebab apabila sesuatu kaum kenyang perutnya, gemuk badannya, lalu akan lemahlah hatinya dan akan merajalelalah syahwatnya!
(At-Targhib Wat-Tarhib 3:420).

Rindu Rasulullah - Bilal

Bilal bin Rabbah, sahabat Rasulullah SAW berkulit hitam namun berhati putih mempunyai banyak kenangan tersendiri pada lelaki mulia yang menjadi nabinya. Kenangan itu berkerak dan melekat dalam diri Bilal ra. sampai jauh setelah Rasulullah SAW wafat. Agar tak terkoyak moyak hatinya, Bilal ra. memutuskan untuk tak lagi adzan sepeninggal Rasulullah SAW. Sampai suatu ketika, rindu Bilal ra. tak tertahankan. Ia pun mengumandangkan adzan.

Kisah itu diawali dengan cerita Bilal ra. tentang mimpinya semalam. Lelaki asal Ethiopia itu, suatu malam bermimpi dalam tidurnya. Dalam mimpinya, Bilal bertemu dengan Rasulullah SAW. “Bilal, betapa rindu aku padamu,” kata Rasulullah SAW dalam mimpi Bilal.

Satu orang mendengar cerita Bilal ra. Tak berapa lama, orang pertama menceritakan mimpi Bilal ra. pada orang kedua. Orang keduapun bercerita pada orang ketiga, keempat, kelima dan seterusnya. Menjelang sore, nyaris seluruh penduduk kota Madinah, kota yang sudah lama ditinggalkannya, tahu tentang mimpinya itu. Maka bersepakat penduduk Madinah, meminta Bilal ra. untuk adzan di masjid Rasulullah saat waktu shalat maghrib tiba.

Tak kuasa Bilal menolak keinginan sahabat-sahabatnya. Senja merah, angin sepoi dan langit bersih dari mega. Bilal mengumandangkan adzan. Penduduk Madinah tercekam kerinduan. Rasa dalam dada membuncah, detik-detik bersama Rasulullah, manusia tercinta terbayang kembali di pelupuk mata. Akhirnya, penduduk Madinah pun menitikkan air mata rindunya. Dan Bilal ra, tentu saja ia diharu biru rindu pada kekasihnya, nabi akhir zaman itu. 
 

Monday, February 15, 2010

Fatimah Ibu Mithali

sumber: http://www.hanan.com.my/
Tazkirah Alisha_Mardhiyah menulis: "FATIMAH binti Asad ialah ibu kepada Ali bin Abu Talib. Abu Talib adalah bapa saudara Nabi Muhammad. Selepas Aminah meninggal dunia, Abu Talib mengambil tanggungjawab menjaga Nabi Muhammad.

Semasa Nabi Muhammad tinggal dengan Abu Talib, Fatimah menjaga anak saudaranya dengan baik.

Segala makan minum, tempat tinggal dan pakaian Nabi Muhammad disediakan oleh pasangan suami isteri itu mengikut kemampuan mereka.

Nabi Muhammad merupakan seorang yang baik, jujur, amanah dan menghormati orang yang lebih tua daripadanya.

Fatimah adalah antara wanita yang awal memeluk agama Islam. Semasa Nabi Muhammad dilantik menjadi nabi, Fatimah memberi sokongan padu kepada Nabi Muhammad bagi menegakkan agama Islam.

Anak-anak Fatimah juga turut mengikuti jejak langkah ibunya dengan memeluk agama Islam. Antara anak Fatimah yang memeluk Islam ialah Uqail, Jaafar, Ali, Ummu Hani dan Talib.

Nabi Muhammad sangat menghormati Fatimah seperti ibunya sendiri.

Semasa Fatimah tinggal di Madinah, Nabi Muhammad sering berkunjung ke rumah Fatimah dan berehat serta tidur pada siang hari di rumah itu.

Begitu juga keadaan berlaku semasa Fatimah tinggal di Mekah. Nabi Muhammad sering ke rumah Fatimah untuk berjumpa dengan ibu saudaranya itu.

Ada seorang lelaki tua bercerita kepada jirannya tentang Fatimah binti Asad. Lelaki tua itu berkata: “Nampaknya keluarga Fatimah sangat rapat dengan Muhammad. Fatimah menjaga Muhammad dengan baik sekali”.

Lalu jiran itu berkata pula: “Bukankah Fatimah itu isteri kepada Abu Talib? Abu Talib adalah bapa saudara Muhammad”.

“Ya,” jawab lelaki tua itu.

Jiran itu menambah lagi: “Sekarang ini Muhammad sudah berkahwin dengan Siti Khadijah. Saya dapat tahu bahawa Ali, anak Fatimah tinggal bersama Muhammad”.

“Ya. Saya juga dengar berita itu,” kata lelaki tua itu pula.

Lelaki tua itu tersenyum mendengar cerita jirannya itu. Lelaki tua itu berkata lagi: “Sejak kecil Fatimah mendidik dan menjaga Muhammad. Sudah tentu Fatimah mengetahui sifat-sifat yang ada pada Muhammad.

“Saya sendiri melihat Muhammad itu baik orangnya. Dia seorang yang amanah, jujur dan baik budi pekerti. Muhammad tidak pernah memungkiri janji”.

“Patutlah Fatimah sanggup membiarkan Ali tinggal bersama Muhammad. Sekiranya saya ada anak, sudah tentu saya juga ingin melihat anak saya tinggal bersama Muhammad. Pasti Muhammad dapat mendidik anak saya menjadi orang baik,” kata jiran itu panjang lebar.

Rata-rata orang yang mengenali Fatimah binti Asad akan memuji sifat keibuannya. Dia pandai mendidik anak sehingga anak-anaknya menjadi anak yang baik.

Sejarah Islam mencatatkan bahawa anak Fatimah iaitu Ali bin Abi Talib telah dilantik menjadi Khalifah yang ketiga selepas Khalifah Umar al-Khattab menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Fatimah juga menyumbang usahanya kepada Islam. Dia adalah seorang wanita yang suka menghafal dan melaporkan hadis dari Nabi Muhammad. Sepanjang hayat, dia telah melaporkan sebanyak 46 buah hadis.

Ali bin Abi Talib iaitu anak Fatimah telah berkahwin dengan anak Nabi Muhammad iaitu Fatimah az-Zahra. Semasa Fatimah az-Zahra menjadi menantunya, Fatimah menjaga menantunya dengan baik.

Ada satu peristiwa yang berlaku semasa Fatimah di rumahnya. Ali meminta ibunya membantu isterinya di rumah.

Ali berkata kepada ibunya: “Wahai ibu, bolehkah ibu membantu isteri saya mengambil air dan membuat pekerjaan yang lain. Isteri saya akan membantu ibu membuat roti untuk kita makan pada hari ini”.

“Boleh. Ibu sedia buat apa sahaja untuk anak dan menantu ibu yang disayangi itu,” kata Fatimah kepada anak lelakinya.

Semasa Fatimah menghembuskan nafasnya yang terakhir, Nabi Muhammad datang menziarahi jenazah Fatimah.

Nabi Muhammad berdoa kepada Allah, “Semoga Allah menyayangi diri Fatimah. Dia merupakan ibu bagi diri saya. Walaupun dia lapar, dia tetap memberi saya makan sehingga kenyang.

“Apabila pakaian saya koyak dan kotor dia akan beri pakaian yang baik kepada saya. Dia akan menghidangkan saya makanan yang enak dan lazat. Semoga Allah membalas jasa dan kebaikan Fatimah di akhirat kelak”.

Kisah srikandi Fatimah merupakan kisah teladan yang boleh dijadikan contoh. Ibu mithali sangat dihormati dan disayangi oleh anak-anak.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More